Jika saya menyusun koleksi tulisan saya secara kronologis, maka tulisan berikut yang muncul adalah "Krisis Identitas Indonesia" yang pertama kali disebarkan tanngal 20 Februari 1999. Tulisan itu saudah di-repost kemarin tanggal 13 Juli 2011. Karena itu sekarang kita masuk ke tulisan berikutnya.
Tulisan ini bukan tentang Zhu Rongji yang bawa-bawa peti mati itu dan siap ditembak karena korupsi, tapi tentang politik luar negeri China yang berani berkata tidak kepada Amerika Serikat. Secara kualitas, tulisan ini sangat buruk. Tapi secara isi, yah seperti biasa tetap menyedihkan bahwa masalah Indonesia sampai sekarang masih sama-sama saja. Di sini yang terlihat adalah tak adanya kebijakan luar negeri yang memiliki kredibilitas....
YS
---------
Pelajaran dari Zhu Rongji
Fri, 23 Apr 1999
MInggu lalu, Perdana Menteri Zhu Rongji dari People Republic of China menyelesaikan tournya di Amerika Serikat. Berlawanan dari 'conventional wisdom' yang ada, tour yang diduga akan gagal ini ternyata sukses besar dan bahkan melakukan sesuatu yang Ken Starr gagal untuk lakukan: yakni memaksa William Jefferson Clinton untuk 'meminta maaf' secara tak langsung atas keteledorannya tentang masalah hubungan dengan China yang dinomorduakan dibawah Kosovo dengan memberikan 'support for China's entry to WTO.' Sebuah coup besar bagi China yang pada tahun ini ekonominya dianggap akan memburuk.... Apalagi kalau ditambah dengan tuduhan spionase dan condemnation kepada 'human rights record'-nya yang sudah menyebabkan para analis skeptic tentang prospek dukungan US kepada China.
Kasus ini sangat menarik untuk dianalisa. Walau China memiliki banyak kredit macet, laporan HAM yang hancur-hancuran, dan sistem kediktatoran, tapi mereka cukup hebat di bidang public relationnya. Dalam tournya Zhu Rongji, dia menekankan kepada KAUM BISNIS US bahwa China sudah memberikan banyak sekali konsesi dan dia menjelaskan apa saja konsesinya itu.
Mengenai soal HAM, Zhu Rongji justru mengelak (dengan alasan bahwa dia lebih tahu duit daripada hak asasi manusia) atau memberikan sedikit bantahan tanpa memerahkan muka sang tuan rumah. Dalam tournya itu yang dia permalukan hanyalah Presiden Clinton yang disebutnya tak bertanggung jawab dan tak mau ikut berdansa dengan China. Mengenai trade deficit, Zhu Rongji menekankan bahwa dia ingin tekhnologi US yang bersifat 'green' dan dia memenangkan dukungan dari kaum environmentalist yang concern akibat kehancuran ekosistem dan angka polusi yang tinggi di China.Hasilnya, kaum bisnis US melobi habis-habisan sang presiden, dan Prez Clinton memberikan dukungan sebesarnya atas masuknya China ke WTO. Keberhasilannya melobi pun karena didukung oleh situasi politik China yang memang stabil dan Zhu Rongji dalam isi tawarannya juga memperlihatkan komitment pemerintah China untuk melakukan reformasi besar-besaran di bidang ekonomi.
Dari deskripsi di atas, kita bisa menarik kesimpulan kenapa China bisa sukses mendapatkan konsesi besar dari Amerika. Pertama-tama, China memiliki kredibilitas. China sudah berulang-ulang menyatakan satu hal dan tetap berdiri dibelakangnya; dari soal devaluasi, politik, Taiwan, sampai ke hal-hal seperti HAM. Niccolo Machiavelli yang terkenal dengan 'ide setan'-nya menulis bahwa 'A prince also wins prestigete for being a true friend or a true enemy.' Dari ketegasan sikap China, tak heran bahwa kaum bisnis walaupun merasa kuatir tentang perkembangan sosial politik di China, tapi mereka tak terlalu kuatir tentang kredibilitas China. Ditambah lagi, sampai sekarang kondisi politik di China walaupun menguatirkan tetap relatif stabil sehingga hal ini ikut memberi sedikit bantuan kepada kredibilitas China.
Keunggulan kedua China terletak di sini kehebatan Zhu Rongji untuk melobi kaum bisnis. Dia 100% committed bahwa tugas dia hanya satu; yakni berusaha agar China diterima ke WTO dan karir politik dia bergantung dengan hal ini. Hasilnya, tak ada waktu untuk berleha-leha dan seperti di New York, dia memanggil semua businessmen yang dia kenal, tak peduli kelasnya (dari kakap ke teri) dan menjelaskan posisi dan konsesi China. Hasilnya, dia mendapat banyak bantuan suara yang mencaci maki kebijakan Presiden Clinton.
Yang ketiga adalah bahwa China juga memberi untuk menerima. Zhu Rongji tidak hanya mengemis-ngemis dan mengancam US agar bisa masuk WTO, China juga menawarkan sesuatu kepada US. Jadi intinya, China memberikan 'carrot and stick,' hadiah dan hukuman; hadiah di bagian konsesi ekonomi, 'hukuman' yakni China tak akan tunduk lagi dan memberikan konsesi lebih banyak lagi kepada US. Hal ini membuat kita berpaling kepada politik luar negeri Indonesia.
Bagaimana dengan Indonesia waktu mengadakan tournya keliling negara-negara maju untuk meminta bantuan? Di Jepang, permintaan Prez. Habibie ditolak mentah-mentah bahkan beberapa laporan menyebutkan bahwa dia membuat emosi para birokrat di Tokyo Mitsubishi Bank yang menyebabkan Jepang menolak memberikan bantuan. Di US sendiri, Indonesia tak mendapat dukungan yang cukup solid dari kalangan akademis dan politikus. Di beberapa perdebatan, banyak politikus yang menyatakan bahwa diperlukan reformasi dulu baru bantuan, dan sampai kejatuhan Ex-Prez Suharto reformasi tak ada (walau sekarang pun masih diragukan bahwa apakah ada reformasi di Indonesia).
Ditambah lagi, instabilitas politik di Indonesia membuat orang-orang concern apakah bagus menginvest di Indonesia. Sampai sekarang pun, orang-orang masih takut untuk invest di Indonesia mengingat kita akan mengadakan pemilu sebentar lagi dan tak diragukan kalau pemilu ini juga akan diwarnai kerusuhan. Yang lebih menyedihkan lagi, Indonesia seakan-akan meminta bantuan tanpa memberi konsesi; seperti penolakan Indonesia tahun lalu untuk melakukan perombakan di bidang perbankan. Hal ini sudah sangat buruk bagi kredibilitas dan citra Indonesia.
Seperti China, Indonesia bisa berkata tidak. Indonesia tak perlu tunduk kepada semua kehendak US, dan Indonesia pun bisa berdiri sendiri. Tapi sayangnya hanya ada satu unsur yang Indonesia tak miliki yang menyebabkan Indonesia tetap tak bisa mengambil garis politik yang independent; yakni kurangnya kredibilitas Indonesia. Seberapa besar kredibilitas Indonesia di mata dunia?
China memberi kita pelajaran bahwa sebuah negara bisa berkata 'tidak' kepada US, tapi perkataan 'tidak' itu perlu didukung sesuatu yang konkrit dan juga ada masa di mana kita perlu berkata 'ya' dan 'tidak.' Sangat idiotik kalau kita menutup negara kita dan selalu menyatakan 'tidak' kepada negara lain karena tiap negara tetap perlu bergantung kepada negara lain. Tapi pelajaran sekarang dari China adalah Indonesia perlu merombak cara memandang ke dunia luar dan sangatlah memerlukan tiga unsur agar bisa berkata 'tidak' kepada negara-negara asing, yakni kredibilitas, kemampuan public relations dan diplomacy, dan kemampuan untuk berani memberi konsesi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
YS
Yohanes Sulaiman's random musings and writings on politics, economics, philosophy, and anything weird.
Announcement
Let me know if you are linking this blog to your page and I will put a link to yours.
Wednesday, July 20, 2011
Off topic: Some mangas
I have been following Hayate no Gotoku since the third tankobon, and while I still enjoy reading the story, I think the post-Athena development is simply blows.... I am not even sure what's the point of the entire sotory anymore. Yea, it can be another "slice of life" story, but I'd rather reading other mangas if I want to read a "slice of life" style. Sketchbook, for instance, is a nice one.
Besides, this plot takes a huge detour from the main story: the mystery of the Kings' Jewels, how it relates to the early death of Yukariko Sanzenin and Mikado's obsessions. By introducing a slew of new characters and adding this entire "comic con" development, it's just... a pile of mishmash that is completely lacking in direction. In the meantime, Hayate is adding another girl to his harem.
Yeah, Chisame. I agree wholeheartedly. It is like watching a trainwreck.
Speaking of direction, it seems that Negima has been lurching toward its finale (and probably ending the entire series). It has been a very long journey and the nice thing about Ken Akamatsu, aside of his untimely and frequent "break for research," is that he manages to tie up many of the loose ends into one coherent epic. I'd hazard to guess that there will be a lot of shonen-cliche going on and unnecessary fan services in the next several chapters, but overall it is still a good series to follow. Watch Evangeline makes everyone naked in the next chapter.Ken Akamatsu also needs to stop adding nonsensical craps on his "spells." Why would someone use "nasi goreng" (Fried Rice) for the incantation? That's stupid and distracting. Hopefully, there will be a GOOD explanation in the tankobon.
Interestingly, someone in Fate's noob harem is actually very powerful and like, a hidden boss or something?
Humm, my complaints about plots reminds me of one of the longest series that I have been following: Detective Conan. I swear that I've never been able to guess the culprit correctly. The logic of Conan is always so messed up - I think Aoyama Gosho is very unfair with his clues. Well, either that or I am just bad at guessing. Still, the plots and the motives are now starting to be very repetitive... after 785 chapters.... Oh yeah, knowing how Conan's logic works, I think the culprit is the lady in the middle, because she is the only one drinking with right hand.
Siapakah oposisi?
Bener-bener ajaib negara Indonesia ini. Tigabelas tahun, kayaknya analisanya sama-sama saja, dari oposisi yang isinya preman, tak ada grass-root support, dsb. Mungkin inilah warisan Mbah Harto yang sanggup memecah belah para reformir sementara elit pusat cenderung mengasimilasi semua yang dianggap bisa membahayakan.
Yah, analisa ini banyak kenaifannya, simplistik, dsb. Tapi overall kayaknya mending. Nostalgia....
YS
----------------
Date: Sun, 20 Dec 1998 10:19:40 -0600
Subject: Siapakah oposisi?
Bulan lalu, saya ingat banyak yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa tanggal 10 November dan diikuti oleh tragedi semanggi akan bisa menjatuhkan militer dan Prez Habibie. Sebagian bahkan menyatakan bahwa wibawa Wiranto sudah jatuh dan dia juga akan siap dipaksa mundur. Tapi sampai sekarang kita lihat bahwa ia masih tetap di atas, dan justru oposisi Indonesia yang semakin terpecah.
Tujuh bulan sudah berlalu sejak mundurnya M. Suharto dari kursi presiden. Satu bulan sudah berlalu sejak sidang istimewa MPR, dan terlihat bahwa gerakan oposisi bukan semakin menguat, tapi melemah. Ini fenomena yang menarik, mengingat bahwa gabungan oposisi dan kekacauan keadaan berhasil memaksa mundur salah satu orang terkuat di Asia tenggara.
Namun, apakah yang terjadi setelah itu? Walau kepalanya di potong, tapi seperti hydra di cerita Herkules, mendadak dari lehernya muncul 2 kepala baru, 4, dst; dan akhirnya ada banyak sekali kepala baru, dimana yang satu bawa lolipop, satu lagi bawa buku, satu lagi bawa taring, dst.... (mulai ngawur....) Singkatnya, kedudukan pemerintah Habibie bukan semakin lemah, malahan menguat dan sebaliknya oposisi yang semakin melemah, kehabisan tenaga memotong semua kepala, dan masalahnya juga oposisi sendiri sudah kehilangan visi dan fokusnya....
Memang sejak dulu pemerintahan Orde Baru berhasil memecah belah oposisi. Tak seperti Philipina dimana 'People Power' merupakan gerakan spontan yang terpusat dan menghancurkan dinasti Marcos sampai keakar-akarnya, dan bersatu membentuk pemerintahan baru, di Indonesia oposisi tak bisa memberi alternatif. Faktanya, justru oposisi di Indonesia cenderung bersifat oportunis dan hanya menggunakan gelombang massa yang terkadang bersifat spontanitas. Permasalahannya adalah: oposisi Indonesia cenderung tidak bersifat 'grassroot.'
Kenapa sampai sekarang gerakan mahasiswa dan oposisi belum sukses? Saya tak ragu akan tekad dan niat mahasiswa dan oposisi untuk melakukan reformasi dan perubahan secara menyeluruh di dunia politik Indonesia yang memang sudah diwarnai oleh KKN. Namun dari gerakan mahasiswa dan oposisi itu, sayangnya yang kurang adalah ide tentang 'what next.'
Siapakah yang diwakili oleh oposisi? Oposisi menyatakan bahwa mereka mewakili seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya adalah: rakyat yang mana?
Apakah yang diwakili adalah yang radikal, preman-preman, perampok, perusuh, atau rakyat di pinggir yang sudah terhantam habis oleh krisis ekonomi? Sebagian besar kaum oposisi saya lihat hanya mewakili kepentingan mereka yang sempit dibandingkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia yang beragam.
Gerakan-gerakan oposisi yang hanya mewakili satu kepentingan seperti agama, kepentingan, suku, ras, golongan, dst tak akan bisa secara efektif mewakili seluruh rakyat Indonesia dan secara otomatis justru akan terpecah. Sampai sekarang, tujuan mahasiswa dan oposisi adalah reformasi. Tapi arti dari reformasi itu sendiri sangatlah luas dan tidak specifik dan tak ada yang setuju pada satu arti. Selain itu, seberapa jauh reformasi harus dilakukan?
Terpecahnya oposisi terlihat secara jelas di media: Amien Rais VS Gus Dur, pendukung ICMI vs non-ICMI; demonstrasi mahasiswa di Jakarta dikecam. Semua itu memberikan alternatif yang mengerikan bagi semua golongan.
Kaum pengusaha yang sudah bosan dengan keadaan chaos di Indonesia ingin kembali ke keadaan stabil dimana ekonomi bisa kembali berjalan, petani yang kelaparan dan tak ada gabah dan pupuk untuk menanam, PHK, angka kejahatan tinggi, dst; apakah semua itu dilihat oleh kaum oposisi di Indonesia? Lihat ke kiri dan ke kanan, ke semua kehancuran akibat krisis ekonomi di Indonesia. Berbicara rhetorik seperti 'partai anu terlalu radikal, atau partai ini terlalu pro pemerintah,' dst tak akan membantu Indonesia. Sebaliknya oposisi perlu bersatu agar suara mereka bisa didengar rakyat.
DI sisi lain, kita juga lihat gerakan-gerakan mahasiswa di luar negeri yang mendukung reformasi dan mengutuk tragedi semanggi. Ini merupakan fenomena yang baik, yakni para mahasiswa di Amerika ataupun di Eropa tetap peduli terhadap nasib bangsa dan negara. Namun, saya sangat ragu bahwa protes saja bisa menyelesaikan masalah.
Jika oposisi ingin kembali di dengar suaranya oleh seluruh rakyat, sudah saatnya kaum oposisi bergabung dan menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi. Kaum oposisi perlu lebih bersikap sebagai kaum reformis yang mau menempatkan kepentingan seluruh rakyat diatas kepentingan pribadi dan golongan, sehingga memberikan kredibilitas pada gerakan-gerakan mereka. Kalau kaum oposisi tetap bersikap seperti sekarang ini, Indonesia tak akan pernah bisa survive. Bahkan gerakan oposisi sendiri mungkin bisa hancur.
Peristiwa-peristiwa besar di dunia membuktikan bahwa kalau kaum oposisi terpecah gerakan reformasi tak akan berakhir dengan bahagia....
YS
Yah, analisa ini banyak kenaifannya, simplistik, dsb. Tapi overall kayaknya mending. Nostalgia....
YS
----------------
Date: Sun, 20 Dec 1998 10:19:40 -0600
Subject: Siapakah oposisi?
Bulan lalu, saya ingat banyak yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa tanggal 10 November dan diikuti oleh tragedi semanggi akan bisa menjatuhkan militer dan Prez Habibie. Sebagian bahkan menyatakan bahwa wibawa Wiranto sudah jatuh dan dia juga akan siap dipaksa mundur. Tapi sampai sekarang kita lihat bahwa ia masih tetap di atas, dan justru oposisi Indonesia yang semakin terpecah.
Tujuh bulan sudah berlalu sejak mundurnya M. Suharto dari kursi presiden. Satu bulan sudah berlalu sejak sidang istimewa MPR, dan terlihat bahwa gerakan oposisi bukan semakin menguat, tapi melemah. Ini fenomena yang menarik, mengingat bahwa gabungan oposisi dan kekacauan keadaan berhasil memaksa mundur salah satu orang terkuat di Asia tenggara.
Namun, apakah yang terjadi setelah itu? Walau kepalanya di potong, tapi seperti hydra di cerita Herkules, mendadak dari lehernya muncul 2 kepala baru, 4, dst; dan akhirnya ada banyak sekali kepala baru, dimana yang satu bawa lolipop, satu lagi bawa buku, satu lagi bawa taring, dst.... (mulai ngawur....) Singkatnya, kedudukan pemerintah Habibie bukan semakin lemah, malahan menguat dan sebaliknya oposisi yang semakin melemah, kehabisan tenaga memotong semua kepala, dan masalahnya juga oposisi sendiri sudah kehilangan visi dan fokusnya....
Memang sejak dulu pemerintahan Orde Baru berhasil memecah belah oposisi. Tak seperti Philipina dimana 'People Power' merupakan gerakan spontan yang terpusat dan menghancurkan dinasti Marcos sampai keakar-akarnya, dan bersatu membentuk pemerintahan baru, di Indonesia oposisi tak bisa memberi alternatif. Faktanya, justru oposisi di Indonesia cenderung bersifat oportunis dan hanya menggunakan gelombang massa yang terkadang bersifat spontanitas. Permasalahannya adalah: oposisi Indonesia cenderung tidak bersifat 'grassroot.'
Kenapa sampai sekarang gerakan mahasiswa dan oposisi belum sukses? Saya tak ragu akan tekad dan niat mahasiswa dan oposisi untuk melakukan reformasi dan perubahan secara menyeluruh di dunia politik Indonesia yang memang sudah diwarnai oleh KKN. Namun dari gerakan mahasiswa dan oposisi itu, sayangnya yang kurang adalah ide tentang 'what next.'
Siapakah yang diwakili oleh oposisi? Oposisi menyatakan bahwa mereka mewakili seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya adalah: rakyat yang mana?
Apakah yang diwakili adalah yang radikal, preman-preman, perampok, perusuh, atau rakyat di pinggir yang sudah terhantam habis oleh krisis ekonomi? Sebagian besar kaum oposisi saya lihat hanya mewakili kepentingan mereka yang sempit dibandingkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia yang beragam.
Gerakan-gerakan oposisi yang hanya mewakili satu kepentingan seperti agama, kepentingan, suku, ras, golongan, dst tak akan bisa secara efektif mewakili seluruh rakyat Indonesia dan secara otomatis justru akan terpecah. Sampai sekarang, tujuan mahasiswa dan oposisi adalah reformasi. Tapi arti dari reformasi itu sendiri sangatlah luas dan tidak specifik dan tak ada yang setuju pada satu arti. Selain itu, seberapa jauh reformasi harus dilakukan?
Terpecahnya oposisi terlihat secara jelas di media: Amien Rais VS Gus Dur, pendukung ICMI vs non-ICMI; demonstrasi mahasiswa di Jakarta dikecam. Semua itu memberikan alternatif yang mengerikan bagi semua golongan.
Kaum pengusaha yang sudah bosan dengan keadaan chaos di Indonesia ingin kembali ke keadaan stabil dimana ekonomi bisa kembali berjalan, petani yang kelaparan dan tak ada gabah dan pupuk untuk menanam, PHK, angka kejahatan tinggi, dst; apakah semua itu dilihat oleh kaum oposisi di Indonesia? Lihat ke kiri dan ke kanan, ke semua kehancuran akibat krisis ekonomi di Indonesia. Berbicara rhetorik seperti 'partai anu terlalu radikal, atau partai ini terlalu pro pemerintah,' dst tak akan membantu Indonesia. Sebaliknya oposisi perlu bersatu agar suara mereka bisa didengar rakyat.
DI sisi lain, kita juga lihat gerakan-gerakan mahasiswa di luar negeri yang mendukung reformasi dan mengutuk tragedi semanggi. Ini merupakan fenomena yang baik, yakni para mahasiswa di Amerika ataupun di Eropa tetap peduli terhadap nasib bangsa dan negara. Namun, saya sangat ragu bahwa protes saja bisa menyelesaikan masalah.
Jika oposisi ingin kembali di dengar suaranya oleh seluruh rakyat, sudah saatnya kaum oposisi bergabung dan menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi. Kaum oposisi perlu lebih bersikap sebagai kaum reformis yang mau menempatkan kepentingan seluruh rakyat diatas kepentingan pribadi dan golongan, sehingga memberikan kredibilitas pada gerakan-gerakan mereka. Kalau kaum oposisi tetap bersikap seperti sekarang ini, Indonesia tak akan pernah bisa survive. Bahkan gerakan oposisi sendiri mungkin bisa hancur.
Peristiwa-peristiwa besar di dunia membuktikan bahwa kalau kaum oposisi terpecah gerakan reformasi tak akan berakhir dengan bahagia....
YS
Tuesday, July 19, 2011
Wiranto diatas angin
Gaya bahasa tulisan ini kurang bagus dan analisanya pun lemah. Tapi menarik, melihat evolusi karir Wiranto, dari "di atas angin" di tahun 1998 menjadi tak lagi relevan sekarang ini. Sebetulnya yang kurang di sini adalah argumen bahwa pada bulan November 1998, tentara sudah lagi menemukan "fungsi" mereka sebagai penjaga dari kestabilan negara. Karena itu mereka pun lebih berani dalam menghadapi gerakan mahasiswa.
---------
Date: Sun, 15 Nov 1998
Subject: [forum] [Analisa] Wiranto diatas angin
Disclaimer:
Ini bukan tulisan yang mendukung tertumpahnya darah mahasiswa. Saya sendiri tidak menyetujui bahwa tentara dengan brutal menembaki mahasiswa yang berdemonstrasi dengan damai. Tulisan ini adalah analisa saya atas balance of power di Indonesia akibat peristiwa minggu lalu.
--------
" Wiranto diatas angin"
Sebuah judul yang memang sangat kontroversial, apalagi kalau kita melihat bahwa kita masih ada di tengah badai yang dimulai sejak sidang istimewa dimulai. Namun, dari yang dapat saya amati, saya dapat menilai untuk posisi sementara ini, militer ada di atas angin, apalagi kalau dibandingkan dengan situasi Mei lalu. Saya bahkan berani menyamakan posisi militer kita sekarang dengan posisi PLA-China waktu peristiwa Tiananmen 1989 yang lalu: yakni darah tertumpah dan mahasiswa dibubarkan dengan paksa, tapi situasi politik tetap menguntungkan pemerintah.
Kenapa saya berani mengambil kesimpulan kontroversial seperti diatas? Salah satu faktor adalah tak terjadinya kerusuhan separah Mei. Waktu itu militer itu 'impoten,' tak ada keputusan, dan tak ada yang memerintah. Tentara tak berani menembak, kerusuhan dan perampokan merajalela. Sekarang, kita lihat, militer berani menembak mahasiswa, jauh lebih terkoordinir, dan secara fakta kita lihat bahwa mahasiswa sendiri dikejar sampai masuk kampus. Militer juga lebih berani mengamankan situasi karena mereka mendapat perintah langsung. Tak ada lagi keragu-raguan, kebimbangan, kebingungan siapa yang berkuasa seperti waktu Mei. Tak ada lagi 'loose cannon' seperti Prabowo. Malahan penjarahan ini ditekan habis walau sayangnya masih ada yang tetap terjadi. Namun secara keseluruhan situasi tidak separah Mei. (Di lain pihak, ini juga seakan-akan memberi legitimacy bahwa kerusuhan Mei lalu merupakan rekayasa dari beberapa pihak yang mendapat keuntungan dengan terjadinya kerusuhan itu).
Singkatnya, kejadian minggu lalu memperlihatkan bahwa militer sudah jauh lebih solid, dan juga trauma Mei rupanya masih berbekas di semua tokoh peristiwa ini sehingga semua pihak lebih menahan diri dan lebih berusaha mengamankan suasana.
Di sisi lain, peran mahasiswa mencegah kerusuhan besar seperti Mei tak bisa diremehkan. Saya yakin juga bahwa kalau mahasiswa tak berusaha menertibkan keadaan, yakni mencegah perampokan, bahwa keadaan pasti bertambah panas dan kerusuhan Mei bisa terulang kembali. DI pihak lain, peristiwa November ini juga memberikan 'pemenang' baru, yakni pihak TNI-AL, terutama korps marinirnya yang berwibawa sebagai penengah dan sebagai pihak yang berjasa mengamankan keadaan. Saya tidak ragu bahwa mahasiswa dan marinir sangat berjasa mencegah terulangnya tragedi Mei, dan juga peran masyarakat yang kuatir akan terulangnya Mei sangatlah penting. Namun, dari keseluruhan, saya lihat bahwa pemenang terbesar adalah Wiranto.
Kenapa saya bilang Wiranto diatas angin? Dia berhasil menyatukan TNI-AD yang terpecah waktu Mei dan membuat militer berani bertindak tegas (yang sayangnya under expense kaum mahasiswa). Mukanya memang tercoreng akibat mengalirnya darah mahasiswa, tapi di pihak lain juga, ini membuktikan bahwa TNI-AD jauh lebih solid di bawah kepemimpinan dia. In fact, ada kemungkinan bahwa dia akan memiliki reputasi seperti Deng Xiao Ping yang tercoreng akibat Tiananmen, tapi sukses dalam menjaga stabilitas negara dan kekuatan partai komunis China. Kalau dalam hari-hari mendatang terjadi kerusuhan, dia juga akan mendapatkan posisi yang lebih kuat untuk lebih mengeluarkan peraturan 'draconian' untuk menjaga kestabilan bangsa dan negara. Lagipula, dia akan bisa lebih mudah mengelakkan diri dari tuduhan bahwa militer penyebab kerusuhan. Instead dia akan mendapat reputasi sebagai penyetabil keadaan
Sementara itu di pihak lain juga, Prez Habibie mendapat keuntungan besar dari peristiwa ini, yakni dia mendapat legitimasi sebagai presiden dan juga mukanya tidak tercoreng sekotor ex-pres Suharto akibat peristiwa Mei. Selain itu juga, keputusan-keputusan SI yang walau kita tidak setuju, tapi tetap bergulir dan memberi sedikit credibility buat pemerintahan dia. Apalagi dengan berangkatnya dia ke Malaysia untuk sidang APEC, otomatis memberi dia pengakuan de jure dari masyarakat internasional bahwa dia memang presiden Indonesia yang memiliki kredibilitas.
Siapakah yang kalah dari kerusuhan ini? Saya rasa adalah kaum oposisi seperti Amien Rais. Sama sekali tak ada niat saya menjelek-jelekkan nama dia, tapi kita lihat bahwa kurangnya peran dari dia memanfaatkan momentum dalam SI kemarin cukup membingungkan. Ini juga berlaku untuk pemimpin-pemimpin oposisi lain yang terlambat mengecam terbunuhnya mahasiswa dan hasil SI MPR. Tapi kelompok yang merupakan the biggest loser adalah perusuh seperti kaum SWA-whatever... yang seperti orang kebanyakan minum viagra dan bawa-bawa bambu runcing 'untuk mengamankan sidang.' Ini juga berlaku untuk kaum perusuh, perampok, dsb yang berusaha menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Kita lihat usaha dari militer, mahasiswa, marinir, dan juga warga-warga teladan Indonesia sangat membatasi gerak mereka.
Tapi walaupun militer mendapat angin akibat ini, apakah angin reformasi yang dihembuskan mahasiswa berarti kurang berarti? Tidak. Reformasi perlu dan wajib terus berjalan di Indonesia karena sudah terlalu mahal harganya, dibeli oleh darah mahasiswa yang jatuh minggu lalu dan memang karena sistem Indonesia SUDAH HARUS DIREFORMASI.
Masih terlalu pagi untuk menyatakan siapa yang menang dan kalah. Lagipula semua pihak adalah pemenang kalau Indonesia tidak terjebak kembali dalam kasus Mei dan angin reformasi masih terus berhembus. Namun, tak boleh lupa bahwa kita masih ada ditengah badai, dan saya harap badai bisa berlalu dengan cepat dan tak terulang kembali kerusuhan-kerusuhan seperti menjelang jatuhnya ex-Prez Suharto. Saya mengharapkan bahwa suara mahasiswa untuk reformasi akan didengar. Tapi apapun hasilnya dari badai politik ini, saya berdoa bahwa itu hanya mewakili kepentingan seluruh warga negara Indonesia yang sejati.
Yohanes Sulaiman
---------
Date: Sun, 15 Nov 1998
Subject: [forum] [Analisa] Wiranto diatas angin
Disclaimer:
Ini bukan tulisan yang mendukung tertumpahnya darah mahasiswa. Saya sendiri tidak menyetujui bahwa tentara dengan brutal menembaki mahasiswa yang berdemonstrasi dengan damai. Tulisan ini adalah analisa saya atas balance of power di Indonesia akibat peristiwa minggu lalu.
--------
" Wiranto diatas angin"
Sebuah judul yang memang sangat kontroversial, apalagi kalau kita melihat bahwa kita masih ada di tengah badai yang dimulai sejak sidang istimewa dimulai. Namun, dari yang dapat saya amati, saya dapat menilai untuk posisi sementara ini, militer ada di atas angin, apalagi kalau dibandingkan dengan situasi Mei lalu. Saya bahkan berani menyamakan posisi militer kita sekarang dengan posisi PLA-China waktu peristiwa Tiananmen 1989 yang lalu: yakni darah tertumpah dan mahasiswa dibubarkan dengan paksa, tapi situasi politik tetap menguntungkan pemerintah.
Kenapa saya berani mengambil kesimpulan kontroversial seperti diatas? Salah satu faktor adalah tak terjadinya kerusuhan separah Mei. Waktu itu militer itu 'impoten,' tak ada keputusan, dan tak ada yang memerintah. Tentara tak berani menembak, kerusuhan dan perampokan merajalela. Sekarang, kita lihat, militer berani menembak mahasiswa, jauh lebih terkoordinir, dan secara fakta kita lihat bahwa mahasiswa sendiri dikejar sampai masuk kampus. Militer juga lebih berani mengamankan situasi karena mereka mendapat perintah langsung. Tak ada lagi keragu-raguan, kebimbangan, kebingungan siapa yang berkuasa seperti waktu Mei. Tak ada lagi 'loose cannon' seperti Prabowo. Malahan penjarahan ini ditekan habis walau sayangnya masih ada yang tetap terjadi. Namun secara keseluruhan situasi tidak separah Mei. (Di lain pihak, ini juga seakan-akan memberi legitimacy bahwa kerusuhan Mei lalu merupakan rekayasa dari beberapa pihak yang mendapat keuntungan dengan terjadinya kerusuhan itu).
Singkatnya, kejadian minggu lalu memperlihatkan bahwa militer sudah jauh lebih solid, dan juga trauma Mei rupanya masih berbekas di semua tokoh peristiwa ini sehingga semua pihak lebih menahan diri dan lebih berusaha mengamankan suasana.
Di sisi lain, peran mahasiswa mencegah kerusuhan besar seperti Mei tak bisa diremehkan. Saya yakin juga bahwa kalau mahasiswa tak berusaha menertibkan keadaan, yakni mencegah perampokan, bahwa keadaan pasti bertambah panas dan kerusuhan Mei bisa terulang kembali. DI pihak lain, peristiwa November ini juga memberikan 'pemenang' baru, yakni pihak TNI-AL, terutama korps marinirnya yang berwibawa sebagai penengah dan sebagai pihak yang berjasa mengamankan keadaan. Saya tidak ragu bahwa mahasiswa dan marinir sangat berjasa mencegah terulangnya tragedi Mei, dan juga peran masyarakat yang kuatir akan terulangnya Mei sangatlah penting. Namun, dari keseluruhan, saya lihat bahwa pemenang terbesar adalah Wiranto.
Kenapa saya bilang Wiranto diatas angin? Dia berhasil menyatukan TNI-AD yang terpecah waktu Mei dan membuat militer berani bertindak tegas (yang sayangnya under expense kaum mahasiswa). Mukanya memang tercoreng akibat mengalirnya darah mahasiswa, tapi di pihak lain juga, ini membuktikan bahwa TNI-AD jauh lebih solid di bawah kepemimpinan dia. In fact, ada kemungkinan bahwa dia akan memiliki reputasi seperti Deng Xiao Ping yang tercoreng akibat Tiananmen, tapi sukses dalam menjaga stabilitas negara dan kekuatan partai komunis China. Kalau dalam hari-hari mendatang terjadi kerusuhan, dia juga akan mendapatkan posisi yang lebih kuat untuk lebih mengeluarkan peraturan 'draconian' untuk menjaga kestabilan bangsa dan negara. Lagipula, dia akan bisa lebih mudah mengelakkan diri dari tuduhan bahwa militer penyebab kerusuhan. Instead dia akan mendapat reputasi sebagai penyetabil keadaan
Sementara itu di pihak lain juga, Prez Habibie mendapat keuntungan besar dari peristiwa ini, yakni dia mendapat legitimasi sebagai presiden dan juga mukanya tidak tercoreng sekotor ex-pres Suharto akibat peristiwa Mei. Selain itu juga, keputusan-keputusan SI yang walau kita tidak setuju, tapi tetap bergulir dan memberi sedikit credibility buat pemerintahan dia. Apalagi dengan berangkatnya dia ke Malaysia untuk sidang APEC, otomatis memberi dia pengakuan de jure dari masyarakat internasional bahwa dia memang presiden Indonesia yang memiliki kredibilitas.
Siapakah yang kalah dari kerusuhan ini? Saya rasa adalah kaum oposisi seperti Amien Rais. Sama sekali tak ada niat saya menjelek-jelekkan nama dia, tapi kita lihat bahwa kurangnya peran dari dia memanfaatkan momentum dalam SI kemarin cukup membingungkan. Ini juga berlaku untuk pemimpin-pemimpin oposisi lain yang terlambat mengecam terbunuhnya mahasiswa dan hasil SI MPR. Tapi kelompok yang merupakan the biggest loser adalah perusuh seperti kaum SWA-whatever... yang seperti orang kebanyakan minum viagra dan bawa-bawa bambu runcing 'untuk mengamankan sidang.' Ini juga berlaku untuk kaum perusuh, perampok, dsb yang berusaha menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Kita lihat usaha dari militer, mahasiswa, marinir, dan juga warga-warga teladan Indonesia sangat membatasi gerak mereka.
Tapi walaupun militer mendapat angin akibat ini, apakah angin reformasi yang dihembuskan mahasiswa berarti kurang berarti? Tidak. Reformasi perlu dan wajib terus berjalan di Indonesia karena sudah terlalu mahal harganya, dibeli oleh darah mahasiswa yang jatuh minggu lalu dan memang karena sistem Indonesia SUDAH HARUS DIREFORMASI.
Masih terlalu pagi untuk menyatakan siapa yang menang dan kalah. Lagipula semua pihak adalah pemenang kalau Indonesia tidak terjebak kembali dalam kasus Mei dan angin reformasi masih terus berhembus. Namun, tak boleh lupa bahwa kita masih ada ditengah badai, dan saya harap badai bisa berlalu dengan cepat dan tak terulang kembali kerusuhan-kerusuhan seperti menjelang jatuhnya ex-Prez Suharto. Saya mengharapkan bahwa suara mahasiswa untuk reformasi akan didengar. Tapi apapun hasilnya dari badai politik ini, saya berdoa bahwa itu hanya mewakili kepentingan seluruh warga negara Indonesia yang sejati.
Yohanes Sulaiman
Dibalik SI November
Salah satu tulisan tua yang berbentuk tanya jawab. Kualitasnya terus terang agak... bleh. Tak terlalu bagus, terutama di bagian akhir. Analisanya masih terlalu lemah, akibat kurangnya pemahaman saya tentang kondisi Indonesia sendiri.
======
Date: Sat, 14 Nov 1998
Subject: Dibalik SI November
Sidang Istimewa November ini memang sangat menarik. Seperti yang telah diduga beberapa kali, memang pada akhirnya sidang ini memberikan hasil yang cukup mengambang, dan juga diwarnai kekerasan. Namun ada beberapa fenomena menarik dari sidang ini yang saya ingin coba bahas. Saya harap pembaca mau memberi komentar tentang ini dan menulis pertanyaan-pertanyaan lain. Semua ini saya tulis untuk mencoba 'make sense' kepada apa yang terjadi bulan November ini.
Apa latar belakang dari sidang ini?
-Pemerintah menyatakan bahwa sidang ini diperlukan untuk menyusun tata cara pemilu yang berikut. Namun, apa fungsi asli dari sidang istimewa ini? Adalah untuk meligitimasi pemerintahan Presiden Habibie yang sekarang ini.
Peralihan kekuasaan dari ex-Prez Suharto ke tangan Prez Habibie sampai sekarang masih dipertanyakan dari segi legitimasinya. Dengan sidang umum ini, otomatis Prez Habibie diberi mandat untuk memimpin Indonesia.
Bukti: RANTAP MPR tentang Pemberhentian Saudara Soeharto/Mandataris MPR dan pengukuhan Saudara B.J.Habibie sebagai Presiden/Mandataris MPR
Apa bedanya tindakan militer saat November ini dengan Mei?
-Waktu Mei, militer dalam keadaan sangat terpecah dan tidak pasti.
Waktu itu beberapa jendral waktu ditanyakan kenapa mereka tidak melakukan apa-apa, mereka menjawab bahwa mereka sendiri tidak tahu apa yang perlu dilakukan. Salah satu bahkan berkata bahwa dia sebetulnya bingung kenapa waktu itu ex-Prez Suharto tidak memerintahkan untuk menembak demonstran, karena kalau saja perintah itu waktu itu keluar, maka semua senapan akan meletus di Jakarta (literally).
Kebingungan pada Mei itu disebabkan karena tak adanya yang memerintah militer dan otomatis situasi sangat tidak terkendali. Selama bertahun-tahun, ex-Prez Suharto menumpulkan kekuasaan jendral-jendral sehingga otomatis tak ada yang dominan. Saat Mei sendiri, dalam militer terjadi perpecahan antara kubu Prabowo dan Wiranto.
Kali ini militer sudah lebih solid dibawah Wiranto, karena itu tak heran kita melihat tindakan yang lebih tegas dari pihak militer; yang walaupun sayangnya sangat bertentangan dengan apa yang kita inginkan.Saat ini bisa saya bilang, militer jauh lebih solid dari segi posisi dibandingkan saat Mei lalu.
Apakah hubungan Prez Habibie dengan Wiranto?
-Pada saat Mei, kedua-duanya saling membutuhkan satu sama lain. Prez Habibie memiliki posisi yang secara politis lemah sekali, akibat proyek-proyek fantastiknya dan juga akibat dibalik bayang-bayang ex-Prez Suharto. Karena itu dia perlu sekali dukungan agai dia bisa tetap diatas. Wiranto menghadapi angkatan darat yang terpecah dan dia perlu membina kekuasaan dia dalam angkatan bersenjata dan perlu waktu untuk mengkonsolidasi kekuasaannya. Kesimpulannya dapat diambil sendiri.
Apakah akan terjadi kerusuhan seperti Mei?
-Ada kemungkinannya, apalagi kalau kita lihat bahwa rakyat dalam keadaan lapar dan frustrasi. Di sisi lain, kita lihat bahwa sekali lagi ada kerusuhan seperti Mei, modal dari luar negeri akan berbondong-bondong meninggalkan Indonesia. Karena itu, militer dan pemerintah Prez Habibie akan lebih berusaha mencegah peristiwa Mei terjadi lagi.
Di lain pihak, mata dunia sekarang sedang menyorot Indonesia, dan saya ragu kalau Prez Habibie mau ke Malaysia dengan muka penuh corengan. Karena itu dia langsung meminta agar ketengangan di jaga, sangat kontras dengan peristiwa Mei dimana essentially tak ada yang berusaha. Ex Prez Suharto sedang di Kairo waktu itu dan Prabowo adalah loose cannon. Kabarnya Prabowo sekarang di Jerman dan ini merupakan fenomena yang menarik.... Ini juga yang membuat Prez Habibie 'bertindak tegas' dan menyatakan bahwa tindakan mengacau keamanan tak akan ditolerir.
Apakah pembantaian mahasiswa sekarang akan menyulut peristiwa lebih parah dari Mei?
-Ada kemungkinan besar, tapi kita lihat keadaan lebih terkendali dibandingkan Mei waktu itu, walau ada kemungkinan ini masih terlalu pagi untuk menarik nafas lega.
Kenapa warga negara keturunan selalu menjadi korban kerusuhan?
-Seperti kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Sulit dipungkiri bahwa ada sebagian pengusaha keturunan yang mendapat manfaat besar dari kegiatan regime Orde Baru, dan juga dari sikap-sikap ABG yang cenderung pamer dan sok-sokan mengakibatkan antipati bertambah besar. Namun saya lebih cenderung meninggalkan pertanyaan ini untuk dijawab oleh pribadi-pribadi sendiri berhubung terlalu kontroversial.
Kenapa rakyat merusak?
-Saya rasa ini adalah akibat frustrasi yang berlebihan, walau ada faktor X yang juga membantu memanasi suasana seperti gerombolan kacau balau yang berusaha mengamankan sidang istimewa dengan bambu runcing....
RANTAP MPR tentang Penugasan kepada Presiden untuk memeriksa Harta Kekayaan Mantan Presiden Soeharto beserta Keluarganya dan Pejabat tinggi Pemerintah Negara beserta Keluarganya: Sepakat untuk tidak disepakati.
-Kenapa? Akibat terlalu banyaknya kaki yang akan diinjak kalau rantap ini disepakati. Seperti kita tahu, semua anggota SI yang bersidang sekarang masih merupakan orang-orang yang dipilih oleh orde baru. Otomatis mereka memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan mereka
Apakah prospek reformasi Indonesia?
-Like it or not, keadaan Indonesia sudah sangat perlu direformasi. KKN harus tetap diberantas, karena itu kalau ada usaha untuk memutar kembali jam ke masa orde Baru yang bertotaliteritas, itu hanya akan membuat bom waktu yang akan meletus setiap ada pergolakan seperti sekarang. Selain itu, sudah ada 11 nyawa yang hilang dan 3 kritis, itu adalah pengorbanan yang sudah cukup besar....
======
Date: Sat, 14 Nov 1998
Subject: Dibalik SI November
Sidang Istimewa November ini memang sangat menarik. Seperti yang telah diduga beberapa kali, memang pada akhirnya sidang ini memberikan hasil yang cukup mengambang, dan juga diwarnai kekerasan. Namun ada beberapa fenomena menarik dari sidang ini yang saya ingin coba bahas. Saya harap pembaca mau memberi komentar tentang ini dan menulis pertanyaan-pertanyaan lain. Semua ini saya tulis untuk mencoba 'make sense' kepada apa yang terjadi bulan November ini.
Apa latar belakang dari sidang ini?
-Pemerintah menyatakan bahwa sidang ini diperlukan untuk menyusun tata cara pemilu yang berikut. Namun, apa fungsi asli dari sidang istimewa ini? Adalah untuk meligitimasi pemerintahan Presiden Habibie yang sekarang ini.
Peralihan kekuasaan dari ex-Prez Suharto ke tangan Prez Habibie sampai sekarang masih dipertanyakan dari segi legitimasinya. Dengan sidang umum ini, otomatis Prez Habibie diberi mandat untuk memimpin Indonesia.
Bukti: RANTAP MPR tentang Pemberhentian Saudara Soeharto/Mandataris MPR dan pengukuhan Saudara B.J.Habibie sebagai Presiden/Mandataris MPR
Apa bedanya tindakan militer saat November ini dengan Mei?
-Waktu Mei, militer dalam keadaan sangat terpecah dan tidak pasti.
Waktu itu beberapa jendral waktu ditanyakan kenapa mereka tidak melakukan apa-apa, mereka menjawab bahwa mereka sendiri tidak tahu apa yang perlu dilakukan. Salah satu bahkan berkata bahwa dia sebetulnya bingung kenapa waktu itu ex-Prez Suharto tidak memerintahkan untuk menembak demonstran, karena kalau saja perintah itu waktu itu keluar, maka semua senapan akan meletus di Jakarta (literally).
Kebingungan pada Mei itu disebabkan karena tak adanya yang memerintah militer dan otomatis situasi sangat tidak terkendali. Selama bertahun-tahun, ex-Prez Suharto menumpulkan kekuasaan jendral-jendral sehingga otomatis tak ada yang dominan. Saat Mei sendiri, dalam militer terjadi perpecahan antara kubu Prabowo dan Wiranto.
Kali ini militer sudah lebih solid dibawah Wiranto, karena itu tak heran kita melihat tindakan yang lebih tegas dari pihak militer; yang walaupun sayangnya sangat bertentangan dengan apa yang kita inginkan.Saat ini bisa saya bilang, militer jauh lebih solid dari segi posisi dibandingkan saat Mei lalu.
Apakah hubungan Prez Habibie dengan Wiranto?
-Pada saat Mei, kedua-duanya saling membutuhkan satu sama lain. Prez Habibie memiliki posisi yang secara politis lemah sekali, akibat proyek-proyek fantastiknya dan juga akibat dibalik bayang-bayang ex-Prez Suharto. Karena itu dia perlu sekali dukungan agai dia bisa tetap diatas. Wiranto menghadapi angkatan darat yang terpecah dan dia perlu membina kekuasaan dia dalam angkatan bersenjata dan perlu waktu untuk mengkonsolidasi kekuasaannya. Kesimpulannya dapat diambil sendiri.
Apakah akan terjadi kerusuhan seperti Mei?
-Ada kemungkinannya, apalagi kalau kita lihat bahwa rakyat dalam keadaan lapar dan frustrasi. Di sisi lain, kita lihat bahwa sekali lagi ada kerusuhan seperti Mei, modal dari luar negeri akan berbondong-bondong meninggalkan Indonesia. Karena itu, militer dan pemerintah Prez Habibie akan lebih berusaha mencegah peristiwa Mei terjadi lagi.
Di lain pihak, mata dunia sekarang sedang menyorot Indonesia, dan saya ragu kalau Prez Habibie mau ke Malaysia dengan muka penuh corengan. Karena itu dia langsung meminta agar ketengangan di jaga, sangat kontras dengan peristiwa Mei dimana essentially tak ada yang berusaha. Ex Prez Suharto sedang di Kairo waktu itu dan Prabowo adalah loose cannon. Kabarnya Prabowo sekarang di Jerman dan ini merupakan fenomena yang menarik.... Ini juga yang membuat Prez Habibie 'bertindak tegas' dan menyatakan bahwa tindakan mengacau keamanan tak akan ditolerir.
Apakah pembantaian mahasiswa sekarang akan menyulut peristiwa lebih parah dari Mei?
-Ada kemungkinan besar, tapi kita lihat keadaan lebih terkendali dibandingkan Mei waktu itu, walau ada kemungkinan ini masih terlalu pagi untuk menarik nafas lega.
Kenapa warga negara keturunan selalu menjadi korban kerusuhan?
-Seperti kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Sulit dipungkiri bahwa ada sebagian pengusaha keturunan yang mendapat manfaat besar dari kegiatan regime Orde Baru, dan juga dari sikap-sikap ABG yang cenderung pamer dan sok-sokan mengakibatkan antipati bertambah besar. Namun saya lebih cenderung meninggalkan pertanyaan ini untuk dijawab oleh pribadi-pribadi sendiri berhubung terlalu kontroversial.
Kenapa rakyat merusak?
-Saya rasa ini adalah akibat frustrasi yang berlebihan, walau ada faktor X yang juga membantu memanasi suasana seperti gerombolan kacau balau yang berusaha mengamankan sidang istimewa dengan bambu runcing....
RANTAP MPR tentang Penugasan kepada Presiden untuk memeriksa Harta Kekayaan Mantan Presiden Soeharto beserta Keluarganya dan Pejabat tinggi Pemerintah Negara beserta Keluarganya: Sepakat untuk tidak disepakati.
-Kenapa? Akibat terlalu banyaknya kaki yang akan diinjak kalau rantap ini disepakati. Seperti kita tahu, semua anggota SI yang bersidang sekarang masih merupakan orang-orang yang dipilih oleh orde baru. Otomatis mereka memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan mereka
Apakah prospek reformasi Indonesia?
-Like it or not, keadaan Indonesia sudah sangat perlu direformasi. KKN harus tetap diberantas, karena itu kalau ada usaha untuk memutar kembali jam ke masa orde Baru yang bertotaliteritas, itu hanya akan membuat bom waktu yang akan meletus setiap ada pergolakan seperti sekarang. Selain itu, sudah ada 11 nyawa yang hilang dan 3 kritis, itu adalah pengorbanan yang sudah cukup besar....
Monday, July 18, 2011
Is there a captain on the bridge?
Semakin lama membaca tulisan-tulisan tua ini, semakin pesimis rasanya. Kelihatannya tiga belas tahun ini keluhannya tetap sama-sama saja, yakni masalah kurangnya kepemimpinan, menteri-menteri asbun yang merusak kepercayaan rakyat dan pasar kepada pemerintah, dan ketidak tegasan dari pemerintah.
Tulisan ini tak jelek, tapi kurang terstruktur, walaupun analogi pembukaannya menarik.
YS
------
Date: Sat, 24 Oct 1998
Subject: Is there a captain on the bridge?
Bayangkan kita sekarang ada dalam sebuah kapal laut. Bayangkan juga kapal kita ini sekarang dalam keadaan siap tenggelam akibat badai yang menggelora. Para penumpang panik, crew kebingungan , dan dalam kondisi ini sang Kapten berusaha memimpin kapal.
Apakah langkah-langkah yang perlu dilakukan sang kapten dalam menyelamatkan kapal ini? Dalam kondisi seperti ini, yang pertama-tama sang kapten perlu lakukan adalah berusaha menenangkan kondisi kapal, membuat penumpang tak panik, dan mengkoordinir awak kapal.
Sang kapten perlu berusaha paling dikit membawa kapal ke darat agar semua awak, penumpang, dan barang-barangnya bisa diselamatkan. Untuk itu perlu adanya koordinasi yang tinggi sekali antara sang kapten dan crew membernya. Dalam beberapa jam, akhirnya daratan terlihat. Mendadak salah satu awaknya mengeluarkan tindakan yang berbahaya bagi keselamatan seluruh awak. Apakah yang perlu dilakukan sang kapten?
Saat ini Indonesia dalam kondisi seperti diatas. Negara kita ini sebetulnya sudah dalam keadaan hancur, walau sebetulnya ada beberapa pertanda cerah terlihat di cakrawala. Menguatnya rupiah merupakan tanda-tanda bahwa kita sudah mendekati daratan, walau krisis belum selesai (bahkan sebagian ahli menyatakan Indonesia baru mulai pulih tahun 2000-an).
Namun, apakah dengan 'melihat daratan' itu berarti krisis sudah selesai? TIdak, bahkan dengan kelengahan yang terjadi akhir-akhir ini, krisis di Indonesia bisa menjadi tambah berbahaya. Salah satu faktor dari kelengahan ini adalah kurang koordinasi, terutama di pemerintah sendiri.
Sungguh menyedihkan membaca pernyataan dari Menteri Negara Urusan Pangan dan Hortikultura AM Saefuddin. Ini merupakan suatu pernyataan yang sangat negatif dan membahayakan dari seseorang dengan status dan jabatan seperti dia. DI satu pihak, ini membuktikan bahwa tak semua menteri merupakan orang beres, tapi di pihak lain ini juga memperlihatkan bahwa bagaimana pemerintah yang tak terkoordinir dapat dengan mudah memancing keributan.
Wibawa kapten pada saat ini masih sangat lemah. Legitimasinya tak ada, selain dari penyerahan jabatan dari kapten yang lama ke kapten yang baru. Sekarang, dengan munculnya pernyataan ajaib dari crew ini, bukankah artinya kapten tak sanggup mengatasi krisis ini. Kalau anak buah sendiri tak bisa dikendalikan, bagaimana bisa mengendalikan negara dengan 200 juta penduduk?
Terus terang, hal ini bisa mengarah ke precedent yang jauh lebih buruk dari sekedar demonstrasi massa. Rakyat Bali yang mogok otomatis akan membahayakan pendapatan devisa negara. Negara-negara lain akan sangat skeptik melihat pemerintah kita. Belum lagi, kalau sang menteri tak ditindak, maka akan terjadi 'toleransi' berikut ke tindakan-tindakan kacau berikut, yang akhirnya hanya akan menghancurkan kewibawaan pemerintah dan akhirnya negara kita. Dalam chaos ini, investor pasti akan kabur, dan otomatis kita akan karam, padahal daratan sudah terlihat.
Kasus ini pasti akan terbawa-bawa terus sampai ke sidang umum 10 November ini, karena ini membuat orang bertanya-tanya sejauh mana pemerintah kita mau reformasi, dan sejauh mana hukum berani ditegakkan. Kalau pemerintah tak sanggup bertindak tegas dengan membereskan kabinet, bagaimana orang bisa percaya pemerintah akan bisa membereskan kekacauan yang sudah berakar dari jaman Orde Baru? Yang kita lihat sekarang adalah benih-benih disintegrasi bangsa kita.
Sekarang penumpang kapal sedang panik akibat banyak sekali kasus, seperti kasus terror kepada anggota Komnas HAM, kasus dukun santet, kasus ninja, dan belum lagi bagasi-bagasi lama seperti korupsi, kasus kerusuhan Mei di Medan dan Jakarta, dsb. Dalam kondisi seperti ini, kepanikan massa akan hanya dipertambah dengan ketidakbecusan pemerintah dalam menindak awak kapalnya yang ceplas-ceplosan dan memperkeruh suasana diantara penumpang.
Untuk itu, kita perlu serukan kepada pemerintah agar bertindak tegas, berusaha reformasi dengan sepenuhnya, dan menindak tiap aparat yang membahayakan kapal yang sudah hampir karam ini.
Yohanes Sulaiman
Tulisan ini tak jelek, tapi kurang terstruktur, walaupun analogi pembukaannya menarik.
YS
------
Date: Sat, 24 Oct 1998
Subject: Is there a captain on the bridge?
Bayangkan kita sekarang ada dalam sebuah kapal laut. Bayangkan juga kapal kita ini sekarang dalam keadaan siap tenggelam akibat badai yang menggelora. Para penumpang panik, crew kebingungan , dan dalam kondisi ini sang Kapten berusaha memimpin kapal.
Apakah langkah-langkah yang perlu dilakukan sang kapten dalam menyelamatkan kapal ini? Dalam kondisi seperti ini, yang pertama-tama sang kapten perlu lakukan adalah berusaha menenangkan kondisi kapal, membuat penumpang tak panik, dan mengkoordinir awak kapal.
Sang kapten perlu berusaha paling dikit membawa kapal ke darat agar semua awak, penumpang, dan barang-barangnya bisa diselamatkan. Untuk itu perlu adanya koordinasi yang tinggi sekali antara sang kapten dan crew membernya. Dalam beberapa jam, akhirnya daratan terlihat. Mendadak salah satu awaknya mengeluarkan tindakan yang berbahaya bagi keselamatan seluruh awak. Apakah yang perlu dilakukan sang kapten?
Saat ini Indonesia dalam kondisi seperti diatas. Negara kita ini sebetulnya sudah dalam keadaan hancur, walau sebetulnya ada beberapa pertanda cerah terlihat di cakrawala. Menguatnya rupiah merupakan tanda-tanda bahwa kita sudah mendekati daratan, walau krisis belum selesai (bahkan sebagian ahli menyatakan Indonesia baru mulai pulih tahun 2000-an).
Namun, apakah dengan 'melihat daratan' itu berarti krisis sudah selesai? TIdak, bahkan dengan kelengahan yang terjadi akhir-akhir ini, krisis di Indonesia bisa menjadi tambah berbahaya. Salah satu faktor dari kelengahan ini adalah kurang koordinasi, terutama di pemerintah sendiri.
Sungguh menyedihkan membaca pernyataan dari Menteri Negara Urusan Pangan dan Hortikultura AM Saefuddin. Ini merupakan suatu pernyataan yang sangat negatif dan membahayakan dari seseorang dengan status dan jabatan seperti dia. DI satu pihak, ini membuktikan bahwa tak semua menteri merupakan orang beres, tapi di pihak lain ini juga memperlihatkan bahwa bagaimana pemerintah yang tak terkoordinir dapat dengan mudah memancing keributan.
Wibawa kapten pada saat ini masih sangat lemah. Legitimasinya tak ada, selain dari penyerahan jabatan dari kapten yang lama ke kapten yang baru. Sekarang, dengan munculnya pernyataan ajaib dari crew ini, bukankah artinya kapten tak sanggup mengatasi krisis ini. Kalau anak buah sendiri tak bisa dikendalikan, bagaimana bisa mengendalikan negara dengan 200 juta penduduk?
Terus terang, hal ini bisa mengarah ke precedent yang jauh lebih buruk dari sekedar demonstrasi massa. Rakyat Bali yang mogok otomatis akan membahayakan pendapatan devisa negara. Negara-negara lain akan sangat skeptik melihat pemerintah kita. Belum lagi, kalau sang menteri tak ditindak, maka akan terjadi 'toleransi' berikut ke tindakan-tindakan kacau berikut, yang akhirnya hanya akan menghancurkan kewibawaan pemerintah dan akhirnya negara kita. Dalam chaos ini, investor pasti akan kabur, dan otomatis kita akan karam, padahal daratan sudah terlihat.
Kasus ini pasti akan terbawa-bawa terus sampai ke sidang umum 10 November ini, karena ini membuat orang bertanya-tanya sejauh mana pemerintah kita mau reformasi, dan sejauh mana hukum berani ditegakkan. Kalau pemerintah tak sanggup bertindak tegas dengan membereskan kabinet, bagaimana orang bisa percaya pemerintah akan bisa membereskan kekacauan yang sudah berakar dari jaman Orde Baru? Yang kita lihat sekarang adalah benih-benih disintegrasi bangsa kita.
Sekarang penumpang kapal sedang panik akibat banyak sekali kasus, seperti kasus terror kepada anggota Komnas HAM, kasus dukun santet, kasus ninja, dan belum lagi bagasi-bagasi lama seperti korupsi, kasus kerusuhan Mei di Medan dan Jakarta, dsb. Dalam kondisi seperti ini, kepanikan massa akan hanya dipertambah dengan ketidakbecusan pemerintah dalam menindak awak kapalnya yang ceplas-ceplosan dan memperkeruh suasana diantara penumpang.
Untuk itu, kita perlu serukan kepada pemerintah agar bertindak tegas, berusaha reformasi dengan sepenuhnya, dan menindak tiap aparat yang membahayakan kapal yang sudah hampir karam ini.
Yohanes Sulaiman
Sunday, July 17, 2011
Politik di balik pembunuhan Ita
Rasanya kok lucu, dari dulu sampai sekarang polisi selalu dipertanyakan. 13 tahun reformasi kok tetap saja pertanyaannya sama.... Apa kabar juga dengan Marsinah? Rasanya belum beres juga, terhantam kasus "pembunuhan di udara"....
YS
----
Politik di balik pembunuhan Ita
Mon, 12 Oct 1998
Pembunuhan Ita yang dilakukan hari Sabtu benar-benar sadis dan menusuk hati nurani kita semua. Sungguh keji kalau kita pikirkan, seorang anak yang berusia 18 tahun dibunuh dengan sadis karena ia mau mengungkapkan kebenaran. Kepolisian dalam 24 jam dengan sigap menangkap pembunuhnya, suatu prestasi yang 'hebat' dari ketegasan polisi kita, kalau kita pikirkan bahwa bagaimana mereka menanggapi kasus-kasus lain seperti Marsinah, kerusuhan Mei, kasus Ria Irawan, dsb yang sampai sekarang belum terpecahkan. Ini juga memberikan suatu concern baru untuk kita, tentang sebagaimana rusaknya reputasi aparat keamanan di negara kita, dan otomatis juga pemerintah kita.
Asumsi masyarakat soal sistem politik kita adalah kebiasaan aparat pemerintah untuk mencari kambing hitam setiap kali terjadi masalah yang mengganggu kredibilitasnya. Walau ini merupakan 'soal biasa,' tapi ini juga membuktikan seberapa parahnya kredibilitas aparat hukum dan pemerintah di negara kita.
Di negara-negara lain, tak ada orang yang meragukan kalau polisi menangkap satu orang. Di beberapa negara, bahkan ditangkapnya satu orang sudah berarti ia pasti bersalah berhubung sangat berwibawanya aparat keamanan di negara tersebut. Di Indonesia, cara kerja dari aparat kepolisian yang relatif terikat oleh politik benar-benar mengganggu kewibawaan dan kebersihan dari aparat keamanan kita. Ditambah dengan seringnya ketidaktepatan pernyataan dari aparat hukum, pertanyaan tentang kebersihan kepolisian, dan juga seringnya terjadi penyiksaan kepada tersangka untuk mendapat pengakuan menyebabkan kredibilitas kepolisian sangat menguatirkan.
Kenapa saya bilang bahwa kelihatannya ada nuansa politik di belakang pembunuhan ini? Ini terjadi dari beberapa 'coincidence' yang benar-benar terjadi dalam kasus unik ini. Sekarang di Indonesia, kalaupun itu benar bahwa motif pembunuhan itu merupakan kriminalitas biasa, tapi suatu 'kebetulan' yang benar-benar pas, ditambah lagi dengan keanehan dari type dan motif pelaku pembunuhan itu.
Pertama-tama, salah satu keanehan berada dari korban itu sendiri. Kita lihat latar belakang korban: tim relawan tentang kasus Mei. Ini sudah mengganggu pikiran kita bahwa adanya niat untuk 'obstruction of justice' di balik pembunuhan ini. Sudah merupakan rahasia umum bahwa usaha untuk membongkar kasus Mei akan berdampak dengan terinjaknya banyak kaki orang-orang yang memiliki vested interests dari kerusuhan itu.
Fenomena lain yang terjadi adalah seakan-akan adanya usaha dari beberapa pihak untuk mendiskreditkan korban perkosaan DAN Ita sendiri secara keseluruhan. Di Kompas Minggu, bahkan disodorkan teori bahwa Ita kecanduan obat terlarang dan secara kasarnya itu adalah pelacur. Suatu keanehan yang sangat conflicting, dari latar belakang korban dan disodorkannya teori ini dalam kasus mengerikan ini.
Unsur politik lain dalam pembunuhan ini terletak dalam motif. Seakan-akan ada usaha untuk mendiskreditkan PDI dengan motif pelaku yakni 'bingung karena mau ikut kongres Partai PDI di Medan dan bingung soal biayanya.' Walaupun kesannya biasa, tapi dengan motif 'ingin ikut kongres Partai PDI di Denpasar' yang disodorkan kepolisian sebagai alasan melakukan kejahatan itu sangatlah mengganggu.
Di satu pihak, kalau ternyata terbukti bahwa tersangka itu tak bersalah, ini juga sudah cukup mengganggu karena ini berarti adanya niat dari kepolisian untuk mendiskreditkan anggota Partai PDI. Asumsinya: anggota PDI sendiri membunuh, karena itu partainya juga enggak beres. Ini jelas-jelas usaha untuk mendiskreditkan salah satu partai politik di Indonesia.
Kejanggalan lain dari pembunuhan itu berada dari pihak cara kerja pelaku. Kalau itu berdasarkan kriminalitas murni, kenapa pembunuhnya itu tak mengambili perhiasan korban dst. Sangat aneh kalau hal ini terjadi, karena asumsinya sekarang kamu sudah masuk sungai, kenapa tidak sekalian berenang? Dari banyak kasus yang kita sering lihat, seperti kasus pembunuhan Basuki Abdullah, pelaku yang sudah membunuh biasanya tetap mengambili barang korban, dan bukan langsung lari, apalagi kalau memang benar dia sudah nekad. Apalagi kalau kita pikir pelaku sudah 'pusing' karena tak ada biaya untuk pergi ikut kongres, bukankah sebaiknya dia mempreteli perhiasan korban? Kejanggalan ini membuat motif 'kriminalitas' menjadi diragukan.
Motif-motif di atas, ditambah lagi tak adanya respons polisi dalam menanggapi ancaman teror kepada tim HAM di Indonesia sangatlah mengganggu pikiran kita. Di masa reformasi ini, terlihat bahwa kepolisian sendiri ternyata 'kebal' kepada kasus mengenai ancaman kepada kaum reformis. Namun, untuk kasus pembunuhan ini, terlihat bahwa terjadi usaha untuk cover up dari pihak-pihak tertentu, yang saya rasa para pembaca tahu kepada usaha untuk mencari kebenaran.
Ini membawa kita ke Pemilu November ini. Pemilu November ini akan sangat menguatirkan sekali (saya tahu kesalahan tata bahasa ini, dan saya melakukannya untuk menekankan ini). Dari cover up ini, akan terlihat kelemahan dari kredibilitas pemerintah, dan otomatis akan adanya pernyataan dari peserta Pemilu nanti bahwa ada kejanggalan-kejanggalan tertentu dalam Pemilu. Mungkin peringatan ini terlalu prematur, tapi hal ini sudah jadi fenomena di banyak negara, dan saya tak ragu Indonesia juga akan terjadi. Apalagi kalau kita ingat di pemilu-pemilu lalu dimana banyak lembar yang diterima partai-partai PDI dan PPP ditemukan terhanyut di sungai-sungai. Kita semua tahu, kombinasi dari unsur irregularitas Pemilu, ditambah usaha cover-up, pengangguran yang tinggi, dan kekurangan pangan akan menimbulkan campuran yang menarik....
Kredibilitas aparat hukum yang begitu rendah, dimana tiap kasus yang mereka selesaikan selalu mendapat pandangan sebelah mata dari masyarakat, korupsi di kepolisian, ketidak beresan hukum, ditambah lagi kredibilitas pemerintah kita yang walaupun jago puisi (ingat pidato Agustus) tapi sangat menguatirkan; menjadi bahan pemikiran untuk kita semua. Ini adalah campuran bahan kimia yang terlalu berbahaya. Untuk itu, pemerintah harus bersikap lebih transparan dalam penyelesaian kasus ini ditambah lagi pemerintah harus beritikad untuk melaksanakan Pemilu dengan bebas dan tak diwarnai oleh kejanggalan. November ini adalah kesempatan terakhir pemerintah Presiden Habibie untuk memperlihatkan itikadnya dalam bereformasi. Kalau kesempatan ini dilewatkan, Indonesia bisa mengalami bahaya yang sangat menguatirkan....
Yohanes Sulaiman
YS
----
Politik di balik pembunuhan Ita
Mon, 12 Oct 1998
Pembunuhan Ita yang dilakukan hari Sabtu benar-benar sadis dan menusuk hati nurani kita semua. Sungguh keji kalau kita pikirkan, seorang anak yang berusia 18 tahun dibunuh dengan sadis karena ia mau mengungkapkan kebenaran. Kepolisian dalam 24 jam dengan sigap menangkap pembunuhnya, suatu prestasi yang 'hebat' dari ketegasan polisi kita, kalau kita pikirkan bahwa bagaimana mereka menanggapi kasus-kasus lain seperti Marsinah, kerusuhan Mei, kasus Ria Irawan, dsb yang sampai sekarang belum terpecahkan. Ini juga memberikan suatu concern baru untuk kita, tentang sebagaimana rusaknya reputasi aparat keamanan di negara kita, dan otomatis juga pemerintah kita.
Asumsi masyarakat soal sistem politik kita adalah kebiasaan aparat pemerintah untuk mencari kambing hitam setiap kali terjadi masalah yang mengganggu kredibilitasnya. Walau ini merupakan 'soal biasa,' tapi ini juga membuktikan seberapa parahnya kredibilitas aparat hukum dan pemerintah di negara kita.
Di negara-negara lain, tak ada orang yang meragukan kalau polisi menangkap satu orang. Di beberapa negara, bahkan ditangkapnya satu orang sudah berarti ia pasti bersalah berhubung sangat berwibawanya aparat keamanan di negara tersebut. Di Indonesia, cara kerja dari aparat kepolisian yang relatif terikat oleh politik benar-benar mengganggu kewibawaan dan kebersihan dari aparat keamanan kita. Ditambah dengan seringnya ketidaktepatan pernyataan dari aparat hukum, pertanyaan tentang kebersihan kepolisian, dan juga seringnya terjadi penyiksaan kepada tersangka untuk mendapat pengakuan menyebabkan kredibilitas kepolisian sangat menguatirkan.
Kenapa saya bilang bahwa kelihatannya ada nuansa politik di belakang pembunuhan ini? Ini terjadi dari beberapa 'coincidence' yang benar-benar terjadi dalam kasus unik ini. Sekarang di Indonesia, kalaupun itu benar bahwa motif pembunuhan itu merupakan kriminalitas biasa, tapi suatu 'kebetulan' yang benar-benar pas, ditambah lagi dengan keanehan dari type dan motif pelaku pembunuhan itu.
Pertama-tama, salah satu keanehan berada dari korban itu sendiri. Kita lihat latar belakang korban: tim relawan tentang kasus Mei. Ini sudah mengganggu pikiran kita bahwa adanya niat untuk 'obstruction of justice' di balik pembunuhan ini. Sudah merupakan rahasia umum bahwa usaha untuk membongkar kasus Mei akan berdampak dengan terinjaknya banyak kaki orang-orang yang memiliki vested interests dari kerusuhan itu.
Fenomena lain yang terjadi adalah seakan-akan adanya usaha dari beberapa pihak untuk mendiskreditkan korban perkosaan DAN Ita sendiri secara keseluruhan. Di Kompas Minggu, bahkan disodorkan teori bahwa Ita kecanduan obat terlarang dan secara kasarnya itu adalah pelacur. Suatu keanehan yang sangat conflicting, dari latar belakang korban dan disodorkannya teori ini dalam kasus mengerikan ini.
Unsur politik lain dalam pembunuhan ini terletak dalam motif. Seakan-akan ada usaha untuk mendiskreditkan PDI dengan motif pelaku yakni 'bingung karena mau ikut kongres Partai PDI di Medan dan bingung soal biayanya.' Walaupun kesannya biasa, tapi dengan motif 'ingin ikut kongres Partai PDI di Denpasar' yang disodorkan kepolisian sebagai alasan melakukan kejahatan itu sangatlah mengganggu.
Di satu pihak, kalau ternyata terbukti bahwa tersangka itu tak bersalah, ini juga sudah cukup mengganggu karena ini berarti adanya niat dari kepolisian untuk mendiskreditkan anggota Partai PDI. Asumsinya: anggota PDI sendiri membunuh, karena itu partainya juga enggak beres. Ini jelas-jelas usaha untuk mendiskreditkan salah satu partai politik di Indonesia.
Kejanggalan lain dari pembunuhan itu berada dari pihak cara kerja pelaku. Kalau itu berdasarkan kriminalitas murni, kenapa pembunuhnya itu tak mengambili perhiasan korban dst. Sangat aneh kalau hal ini terjadi, karena asumsinya sekarang kamu sudah masuk sungai, kenapa tidak sekalian berenang? Dari banyak kasus yang kita sering lihat, seperti kasus pembunuhan Basuki Abdullah, pelaku yang sudah membunuh biasanya tetap mengambili barang korban, dan bukan langsung lari, apalagi kalau memang benar dia sudah nekad. Apalagi kalau kita pikir pelaku sudah 'pusing' karena tak ada biaya untuk pergi ikut kongres, bukankah sebaiknya dia mempreteli perhiasan korban? Kejanggalan ini membuat motif 'kriminalitas' menjadi diragukan.
Motif-motif di atas, ditambah lagi tak adanya respons polisi dalam menanggapi ancaman teror kepada tim HAM di Indonesia sangatlah mengganggu pikiran kita. Di masa reformasi ini, terlihat bahwa kepolisian sendiri ternyata 'kebal' kepada kasus mengenai ancaman kepada kaum reformis. Namun, untuk kasus pembunuhan ini, terlihat bahwa terjadi usaha untuk cover up dari pihak-pihak tertentu, yang saya rasa para pembaca tahu kepada usaha untuk mencari kebenaran.
Ini membawa kita ke Pemilu November ini. Pemilu November ini akan sangat menguatirkan sekali (saya tahu kesalahan tata bahasa ini, dan saya melakukannya untuk menekankan ini). Dari cover up ini, akan terlihat kelemahan dari kredibilitas pemerintah, dan otomatis akan adanya pernyataan dari peserta Pemilu nanti bahwa ada kejanggalan-kejanggalan tertentu dalam Pemilu. Mungkin peringatan ini terlalu prematur, tapi hal ini sudah jadi fenomena di banyak negara, dan saya tak ragu Indonesia juga akan terjadi. Apalagi kalau kita ingat di pemilu-pemilu lalu dimana banyak lembar yang diterima partai-partai PDI dan PPP ditemukan terhanyut di sungai-sungai. Kita semua tahu, kombinasi dari unsur irregularitas Pemilu, ditambah usaha cover-up, pengangguran yang tinggi, dan kekurangan pangan akan menimbulkan campuran yang menarik....
Kredibilitas aparat hukum yang begitu rendah, dimana tiap kasus yang mereka selesaikan selalu mendapat pandangan sebelah mata dari masyarakat, korupsi di kepolisian, ketidak beresan hukum, ditambah lagi kredibilitas pemerintah kita yang walaupun jago puisi (ingat pidato Agustus) tapi sangat menguatirkan; menjadi bahan pemikiran untuk kita semua. Ini adalah campuran bahan kimia yang terlalu berbahaya. Untuk itu, pemerintah harus bersikap lebih transparan dalam penyelesaian kasus ini ditambah lagi pemerintah harus beritikad untuk melaksanakan Pemilu dengan bebas dan tak diwarnai oleh kejanggalan. November ini adalah kesempatan terakhir pemerintah Presiden Habibie untuk memperlihatkan itikadnya dalam bereformasi. Kalau kesempatan ini dilewatkan, Indonesia bisa mengalami bahaya yang sangat menguatirkan....
Yohanes Sulaiman
Subscribe to:
Posts (Atom)



