Announcement

Let me know if you are linking this blog to your page and I will put a link to yours.

Wednesday, September 28, 2011

Soekarno, Malaysia, dan PKI

Ini adalah satu-satunya artikel saya yang bisa menembus Kompas. Pada saat yang sama, artikel ini adalah artikel saya yang paling kontroversial. Sampai sekarang pun jika anda menggoogle nama saya, artikel ini akan terus muncul.

Reaksi yang timbul pun sangat beragam. Golongan simpatisan kepada militer atau netral pada dasarnya menerima artikel ini, dan cenderung menganggapnya secara positif. Namun golongan "Kiri" tak henti-hentinya menggempur, karena tidak percaya bahwa Sukarno rupanya bukan dan bahkan tidak menyukai PKI dan PKI pun terlihat sebagai kelompok oportunistis dalam tulisan ini.

Setelah sebulan menghadapi "gempuran," maka saya secara sepihak memutuskan untuk tidak lagi menjawab, karena sangat menghabiskan waktu yang harus saya gunakan untuk membereskan disertasi saya dan ujung-ujungnya saya merasa bahwa perdebatan yang terjadi pun percuma dan tak berharga. Hanya debat kusir belaka.

Para penentang artikel ini terus menulis dengan dogma-dogma dialektika dan pertentangan kelas yang berbelit-belit, yang merupakan "trade mark" dari orang-orang "kiri." Fakta pun menjadi korban. Sedikit sekali serangan yang dikirimkan betul-betul berdasarkan fakta dan data, dokumentasi atau hasil wawancara dengan orang-orang yang menjadi saksi mata pada masa tersebut. Kalaupun mereka mengutip, yang mereka kutip biasanya adalah hal-hal atau pandangan-pandangan yang sangat tidak sesuai konteksnya. Belum lagi tuduhan-tuduhan konyol seperti ada CIA yang membayar saya, dsb.

Serangannya pun sangat... pathetic, mengambil kalimat tak sesuai dengan konteksnya. Mirip sekali dengan reaksi kaum "kiri" kepada tulisan Goenawan Muhammad soal "Marxist," bahwa mereka hobbynya comot sepotong-sepotong dan menyalahartikan argumen/tulisan GM.

Yang lucu untuk saya adalah argumen-argumen yang menyerang tulisan ini ujung-ujungnya kalau di-copy-paste bisa sepanjang 15+ halaman single space, sedangkan panjang artikel ini kurang dari 1000 kata. Mungkin memang itulah gaya debat mereka, kirimkan semua argumen, baik yang relevan maupun tidak relevan, yang penting adalah membungkam orang-orang yang tidak disukai. Intinya, timbun saja dengan sampah, maka mungkin saja ada satu-dua argumen yang bisa dirontokkan dan terus saja mencoba menyalahartikan atau menyerang hal yang tak dituliskan dalam tulisan ini, misalnya peranan Suharto dalam G30S/PKI. Istilah G30S/PKI pun malah diutik-utik.

Akhirnya, saya sadar bahwa percuma saja saya mencoba membalas serangan macam itu dengan sabar.

Empat tahun setelah dituliskannya artikel ini, saya tetap merasa bahwa para penentang saya belum bisa membuktikan apakah tulisan ini "salah."

YS

------
http://www.kompas.com/kompas- cetak/…i/ 3873018.htm



Sabtu, 29 September 2007
Soekarno, Malaysia, dan PKI


Sudah 42 tahun tragedi berdarah yang disebut peristiwa G30S/PKI itu berlangsung. Namun, apa yang terjadi pada malam naas tersebut masih merupakan misteri. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah apa hubungan Soekarno dengan PKI? Benarkah Soekarno mau menyerahkan Indonesia kepada PKI? Jawabannya tidak! Soekarno memerlukan PKI karena saat itu ia ingin mengganyang Malaysia. Namun, Soekarno sendiri tak mau membiarkan PKI naik ke panggung kekuasaan.

Seberapa jauh keterlibatan Soekarno dalam tragedi tersebut? Apa saja yang termuat dalam berbagai dokumen Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dan CIA yang baru saja dideklasifikasikan?

Satu hal yang kurang diperhatikan para sejarawan yang meneliti kedekatan Soekarno dan PKI adalah hubungan antara konfrontasi Malaysia dan kedekatan Soekarno dengan PKI.


Demonstrasi anti-Indonesia

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman-Perdana Menteri Malaysia saat itu-dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

Howard Jones, Duta Besar AS saat itu, melaporkan kepada Washington bahwa ia bertemu Soekarno. “Saat itu Soekarno marah besar…. Tidak ada lagi pertukaran salam. Tak ada basa-basi… . Menjawab pertanyaan saya, apakah situasi sudah terkendali, Soekarno meledak dan mengutuk tindakan Tunku. “Sejak kapan seorang kepala negara pernah menginjak-injak lambang negara lain?” Soekarno juga menyebutkan fotonya yang dirobek dan diinjak-injak. “Rakyat Indonesia sudah murka! Ini Asia, tahun 1963. Saya juga amat beremosi! (telegram dari Kedubes AS di Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 19 September 1963)

Howard Jones menyatakan simpatinya, tetapi ia menekankan bahwa Indonesia tak bisa mengandalkan bantuan AS jika Soekarno ingin melakukan balas dendam. Sementara itu, TNI Angkatan Darat terpecah: Jenderal Ahmad Yani tidak bersedia mengerahkan pasukan untuk menyerbu Malaysia karena tidak merasa tentara Indonesia cukup siap menghadapi Malaysia yang dibelakangi Inggris. Namun, Jenderal AH Nasution setuju untuk mengganyang Malaysia karena ia khawatir isu Malaysia akan ditunggangi PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia.

Saat itu PKI merupakan pendukung terbesar gerakan mengganyang Malaysia, yang dianggap antek neokolonialisme dan imperialisme. Namun, pertimbangan PKI bukan didasarkan sekadar idealisme. PKI berusaha membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia dan menempatkan PKI sebagai gerakan nasionalis yang lebih nasionalis daripada tentara untuk memperkuat posisinya dalam percaturan politik di Indonesia, yang saat itu berpusat pada Soekarno, tentara, dan PKI.

Melihat dukungan tentara yang setengah-setengah, Soekarno kecewa, padahal ia ingin sekali mengganyang Malaysia. Sejak saat itulah, hubungan Soekarno dan PKI bertambah kuat, apalagi setelah tentara sendiri mengalami kegagalan dalam operasi gerilya di Malaysia. Penyebab kegagalan itu bukan karena tentara Indonesia tidak berkualitas, tetapi para pemimpin TNI Angkatan Darat di Jakarta tidak tertarik untuk mengeskalasi konfrontasi.

Kita harus memerhatikan secara saksama jalur pemikiran para pemimpin Angkatan Darat saat itu. Mereka menghadapi buah simalakama. Mereka tidak mau mengeskalasi konflik karena tidak tak yakin akan bisa menang menghadapi Inggris. Di sisi lain, jika mereka tak melakukan apa-apa, Soekarno akan mengamuk. Tak peduli keputusan apa yang diambil, PKI akan tetap untung.

Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara ke Kalimantan, tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia-Inggris (dan Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang. (JAC Mackie, 1971, hal 214)


Kekhawatiran Soekarno

Namun, pada saat yang sama, gagalnya konfrontasi juga berakibat buruk bagi para penentang PKI, seperti Partai Murba. Posisi PKI menguat, sampai 25 November 1964, kepada Washington, Howard Jones melaporkan, Adam Malik, Chaerul Saleh, Jenderal Nasution, Jenderal Sukendro, dan banyak lagi yang lain meminta Pemerintah AS membantu menyelamatkan kaum moderat di Indonesia dari posisi mereka yang amat sulit (akibat menguatnya posisi PKI)…. Sebagian tentara Indonesia merasa malu karena gagalnya usaha mengganyang Malaysia. (telegram dari Kedubes AS di Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 25 November 1964)

Sementara itu, secara internasional pun posisi PKI bertambah kuat dengan semakin dekatnya hubungan Indonesia dengan China-Beijing. Kedekatan ini disebabkan kesuksesan China dalam menguji bom nuklir dan dukungan Beijing kepada konfrontasi Malaysia. Di sisi lain, Soekarno merasa khawatir dengan PKI yang dianggap terlalu kuat. Namun, masalahnya, ia amat memerlukan PKI untuk mengganyang Malaysia, apalagi karena Indonesia sendiri sudah terkucil di lingkungan internasional akibat konfrontasi tersebut.

Kekhawatiran Soekarno terlihat dalam dokumen CIA yang baru dideklasifikasikan beberapa tahun lalu, bertanggalkan 13 Januari 1965. Dokumen itu menyebutkan, dalam sebuah percakapan santai dengan para pemimpin politik sayap kanan, Soekarno menyatakan tak bisa menoleransi gerakan anti-PKI karena ia butuh dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia. Ia menyatakan, namanya sudah “jatuh” di dunia internasional dan Indonesia dianggap negara gila karena keputusannya membawa Indonesia keluar dari PBB. Namun, Soekarno menekankan, suatu waktu, “giliran PKI akan tiba” dan saat itu gerakan menentang PKI sama dengan gerakan untuk menentang Soekarno.

Soekarno berkata, “Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu.” Soekarno mengakhiri percakapan itu dengan berkata, “Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang.”

Dari sini terlihat, kedekatan Soekarno dengan PKI diakibatkan gagalnya TNI Angkatan Darat memenuhi keinginan Soekarno mengganyang Malayia. Soekarno di sini terlihat bukan sebagai antek atau pendukung PKI, tetapi ia memang berusaha menggunakan PKI untuk membantu kebijakannya dalam mengganyang Malaysia. Kegagalan para pemimpin TNI Angkatan Darat juga membuat tentara-tentara, seperti Brigadir Jenderal Suparjo kesal kepada para pimpinan Angkatan Darat. Mereka akhirnya merasa perlu melakukan operasi untuk mengadili para pemimpin TNI Angkatan Darat yang dianggap berkhianat kepada misi yang dibebankan Soekarno. Untuk melakukan hal ini, mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI karena dianggap memiliki misi yang sama, yakni mengganyang Malaysia. Hal ini akhirnya menyebabkan peristiwa yang sampai sekarang disebut sebagai G30S/PKI.

No comments:

Post a Comment